Konsep Pembangunan
Sementara itu, menurut Pak Kis, konsep pembangunan pondok ini dilakukan atas dasar fungsi, yang termasuk di dalamnya adalah: kuat, cepat, tepat, hemat dan indah. Yaitu, kuat dalam konstruksi, cepat dalam arti segera dilaksanakan, dan tepat waktu dalam penyelesaian, tepat dalam ukuran dan takaran, tepat dalam teknis dan sasaran,
efektif dan efisien dalam pemakaian bahan serta bersih, rapi dan indah. Jika dibangun atas dasar fungsi tersebut, maka otomatis variable yang lain sudah termasuk di dalamnya. Untuk fungsi itulah, makanya bangunan di pondok ini, tidak ada yang sama antara satu tempat dengan tempat lainnya.
“Karena masing-masing fungsi memang tidaklah sama. Jadi, konsep pembangunan pondok ini, sesungguhnya berjalan atas kehendak Allah. Sedang yang menjadi arsiteknya adalah Romo Kyai. Jadi, Romo Kyai tidak pernah meniru atau mencontoh konsep pembangunan di tempat lain untuk dipakai di sini. Karena memang fungsinya tidak sama,” kata Pak Kis.
”Contohnya,” imbuh Pak Kis, ”yang terbaru disampaikan adalah mengenai pos depan. Yang punya masalah diselesaikan melalui pembangunan pos depan. Ketika pos tersebut diberi satu ornamen bintang, kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan. Ketika dijawab, misalnya, masalahnya sudah berkurang tapi belum plong. Lantas ditambah dengan satu ornamen bintang lagi, kemudian ditambah ornamen lain lagi sampai yang bersangkutan bisa merasakan benar-benar plong. Bahkan sampai pada warnanya sekalipun, semua juga tidak tahu akhirnya jadi seperti itu.”
Karena itu, lanjutnya, bagi yang mempunyai masalah dan mengeluarkan dananya, termasuk bagi yang mengerjakan hingga yang memandang sekalipun, bisa merasakan dan mengambil fungsinya. Jadi, yang mendanai bisa merasakan bahagia dan terselesaikan masalahnya. Demikian juga bagi yang mengerjakan dan yang menikmati hasilnya.
Menjawab pertanyaan, Pak Kis menjelaskan, pihaknya tidak tahu bagaimana akhir dari proses pembangunan pondok ini. “Semua tidak ada yang tahu, kecuali Romo Kyai sendiri. Yang jelas, kalau kondisi keuangan seperti sekarang ini, taraf pembangunan pondok baru mencapai sekitar 20 persen. Tapi, kalau masyarakat dunia menghendaki dan kondisi keuangan sudah mencapai triliyunan, maka kondisinya belum mencapai seperempatnya,” katanya.
Contoh, kata Pak Kis, di sebelah musholla itu ada kubah. Padahal, ketika tahun 1992 lalu, bangunan itu merupakan bangunan paling besar dan megah. Namun, sekarang, kubah tersebut malah jadi tiang saja. “Romo Kyai sendiri pernah bilang, jika memang ada dana trilyunan, maka semua ruangan yang sekarang ini, hanya akan menjadi tiang saja nantinya,” ujar Pak Kis.
0 Comments