Senang Memuliakan Tamu
Memasuki usia remaja, Romo Kyai telah menunjukkan kemampuan spiritual yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Termasuk dengan para santri yang belajar di Pondok Pesantren Bahrul ’Ul?m dibawah bimbingan (almarhum) Hadhratu as-Syaikh al-Mukarram Kyai Haji Sahlan Th?lib. Meskipun mempunyai kemampuan spiritual yang cukup menonjol, tapi dalam kehidupan sehari-hari, beliau sangat santun terhadap siapa pun. Beliau juga sangat sederhana, tidak pernah menonjolkan diri dan selalu bersikap apa adanya.
Menurut Bapak Haji Mughni, kepada siapa pun, termasuk kepada para santri — baik yang usianya lebih tua atau yang masih muda sekalipun — dan para tamu yang pernah bertemu, Romo Kyai selalu boso (memperhatikan etika sopan-santun dalam berbicara).Beliau tidak pernah menggunakan bahasa ngoko (berkata kasar alias tidak memperhatikan etika sopan-santun dalam berbicara).
Sebaliknya, kata Bapak Haji Mughni, jika beliau ingin menyapa atau memanggil orang lain, beliau selalu menggunakan panggilan yang terbaik. Setidaknya sampeyan * ) . Di samping itu, sikap, tindakan dan cara beliau berbicara, selalu terukur dan terstandar. Sesuai dengan situasi dan kondisi psikologis lawan bicaranya. Beliau tidak pernah membeda-bedakan dalam bersikap kepada siapa pun.
Selain sangat memperhatikan masalah etika, seluruh perilaku beliau dalam kesehariannya, selalu sesuai dengan aturan syariat. Misalnya dari segi makanan, berpakaian dan lain-lain.
”Kasih sayang beliau terhadap semua makhluk ciptaan Allah Azza wa Jalla, bisa digambarkan melalui kasih sayang beliau terhadap santri, jamaah dan para tamu yang datang ke pondok,” ujar Bapak Haji Mughni.
Bukti kalau Romo Kyai sayang kepada semua makhluk, imbuh Bapak Haji Mughni, bisa dilihat dari sikap Romo Kyai dalam menghadapi berbagai permasalahan yang sedang terjadi. Baik yang berhubungan dengan masalah pribadi, keluarga, santri, jama’ah maupun yang menyangkut urusan pondok, umat dan negara.
”Contohnya dalam kasus ketika beliau difitnah telah menyebarkan ajaran sesat, membuat Ka’bah sendiri atau dituding memelihara jin dan prewangan untuk membangun pondok. Dalam menghadapi fitnah seperti itu, beliau tidak pernah marah. Secara lahir, beliau malah menganjurkan para santri untuk melakukan introspeksi diri. Beliau malah memaafkan siapa pun yang telah memfitnah dan membeci beliau,” ungkap Bapak Haji Mughni.
”Tidak hanya itu,” lanjut Bapak Haji Mughni, ”Romo Kyai malah mendoakan orang-orang yang telah memfitnah beliau. Bahkan, beliau malah sangat ingin menghajikan orang-orang yang pernah membenci dan memfitnah beliau.”
Yang jelas, tukas Bapak Haji Mughni, Romo Kyai sangat senang bisa memuliakan semua tamu yang datang ke pondok. Sejak tahun 1963 sampai awal 1990-an, beliau selalu membuka lebar pintu rumahnya untuk menerima dan menemui setiap tamu yang datang. Mulai dari ba’da Shubuh hingga jam dua malam. Beliau istirahat hanya untuk shalat. Ketika tamu sudah pulang sekalipun, Romo Kyai sering menangis. Istilahnya sekarang klayu, kata Pak Kis.
”Lho, kulo niku, nek enten tamu, senajan kulo sakit, ning kaya-kaya-o waras. Lalu langsung saya temui tamunya. Ketika tamunya manthuk (pulang), saya ya jadi sakit lagi,” ujar Romo Kyai, seperti diungkapkan oleh Pak Kis.
Namun, dengan semakin berkembangnya pembangunan pondok dan makin banyaknya jumlah tamu yang datang ke pondok, imbuh Bapak Haji Mughni, beliau sudah tidak bisa menemui tamu lagi. ”Bahkan, jama’ah dan santri sekalipun, mendapat perlakuan yang sama. Jika mereka ingin bertemu secara fisik dan salim kepada beliau, hanya bisa dilakukan setelah shalat ’Ied,” tandas Bapak Haji Mughni.
Menyinggung tentang sikap hidup Romo Kyai, Bapak Haji Mughni mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari, beliau selalu menerima apa pun yang ada pada hari ini. Bagi beliau, apa yang ada hari ini, adalah yang terbaik untuk beliau. Jadi, sebetulnya, beliau tidak mempunyai keinginan atau rencana tertentu.
”Termasuk dalam masalah membangun pondok ini. Aslinya, bukanlah keinginan beliau. Itu adalah keinginan jamaah dan santri,” tukas Bapak Haji Mughni. Tapi, yang mengarahkan dari segala bentuk, motif, waktu dan tempatnya adalah Romo Kyai berdasarkan hasil istikharah beliau.
———————————————————————————————————–
* ) Kata sampeyan adalah istilah yang dipakai masyarakat Jawa Timur untuk menyebut atau memangil lawan bicaranya. Arti dari kata sampeyan itu sendiri adalah kata ganti untuk menyebut pihak kedua (lawan bicara): Anda, Saudara atau Kamu. Di kalangan masyarakat Jawa Timur, kata sampeyan biasanya digunakan oleh orang yang usianya lebih muda ketika ia akan berbicara dengan orang yang usianya lebih tua. Kata tersebut dipakai sebagai bentuk penghormatan atau pemuliaan terhadap orang yang usianya lebih tua. Sedang kepada orang yang usianya lebih muda, sebagian besar masyarakat Jawa Timur, sering menggunakan istilah ko-en, untuk menyapa lawan bicaranya. Adapun dalam adat istiadat yang berlaku di Jawa Timur, istilah ko-en itu, jika digunakan oleh orang yang usianya lebih tua kepada orang muda, dikenal dengan istilah ngoko. Yaitu berbicara ’kasar’ tanpa memperhatikan etika sopan santun.
0 Comments